October 31

Sumpah Pemuda: Sebuah Narasi Sejarah tentang Semangat Kesatuan untuk Kemerdekaan dan Pendidikan

Sumpah Pemuda: Sebuah Narasi Sejarah tentang Semangat Kesatuan untuk Kemerdekaan

Pada tahun 1928, Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda yang telah berlangsung selama berabad-abad. Rakyat Indonesia hidup dalam keterbatasan, dengan hak-hak mereka yang terus menerus terancam dan kebebasan yang tak kunjung tiba. Namun, di tengah tekanan penjajahan, terutama di kalangan pemuda, semangat perlawanan mulai tumbuh. Inilah latar belakang lahirnya Sumpah Pemuda, momen bersejarah yang memicu perjuangan menuju kemerdekaan.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, di Jakarta, yang pada saat itu dikenal sebagai Batavia, Kongres Pemuda II diadakan. Kongres ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai organisasi pemuda dari seluruh Nusantara. Di antara para pemuda yang berpartisipasi, terdapat tokoh-tokoh muda yang menjadi pilar pergerakan nasional, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutomo.

Dalam suasana yang sarat semangat nasionalisme, pemuda-pemuda ini bersatu untuk menyuarakan tekad mereka untuk merdeka. Mereka merasa bahwa persatuan menjadi kunci menuju kemerdekaan. Terinspirasi oleh semangat perjuangan pemuda dari seluruh negeri, para pemuda tersebut menyusun Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda, yang terdiri dari dua butir tekad utama, menjadi manifestasi dari semangat perjuangan yang berkobar dalam hati para pemuda Indonesia. Butir pertama menyatakan tekad mereka untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yang pada dasarnya berbicara tentang persatuan yang kuat. Mereka ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang akan memfasilitasi komunikasi antar berbagai etnis dan suku di Indonesia. Butir kedua menyatakan tekad mereka untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam segala bidang. Ini mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai kemerdekaan, dan pemuda harus bersatu untuk mencapai tujuan ini.

Sumpah Pemuda yang diucapkan pada hari itu menggema sebagai simbol perlawanan yang kuat terhadap penjajahan. Ini juga menjadi tonggak awal bagi gerakan perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan. Seiring berjalannya waktu, semangat dan tekad dalam Sumpah Pemuda ini mengilhami berbagai gerakan nasional, termasuk gerakan pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan di Indonesia.

Sumpah Pemuda memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sumpah Pemuda memotivasi generasi pemuda untuk terus berjuang demi kemerdekaan, dan memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman budaya yang kaya. Selama bertahun-tahun, Sumpah Pemuda telah menjadi sebuah simbol penting dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia, dan perayaan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya adalah pengingat akan semangat tersebut.

Sumpah Pemuda adalah warisan berharga yang harus terus dilestarikan dan dijunjung tinggi oleh generasi muda saat ini. Peringatan akan momen bersejarah ini harus memotivasi kita untuk bersatu, berjuang untuk perubahan positif, dan terus mengembangkan pendidikan yang berkualitas sebagai landasan menuju masa depan yang lebih baik bagi Indonesia yang merdeka.

Makna Sumpah Pemuda dalam Pendidikan

Dalam konteks pendidikan, Sumpah Pemuda memiliki makna yang mendalam dan relevan. Hal ini terkait dengan semangat persatuan, kemerdekaan berpikir, komitmen terhadap kemajuan bangsa, patriotisme dan nasionalisme, dan partisipasi sosial.

Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya persatuan dan toleransi dalam mencapai tujuan besar. Pendidikan berkarakter tentunya mengajarkan siswa untuk menghargai keragaman budaya, agama, dan etnis, serta memupuk semangat untuk bersatu demi tujuan yang lebih besar, seperti kemajuan bangsa.

Sumpah Pemuda mencerminkan semangat kemerdekaan berpikir. Pendidikan dalam kurikulum merdeka mendorong siswa untuk berpikir kritis, mengembangkan gagasan mereka sendiri, dan tidak takut untuk menyuarakan pendapat. Ini adalah pondasi demokrasi dan perkembangan masyarakat yang maju. Siswa harus diajarkan untuk berpikir independen, menghormati hak asasi manusia, dan berani mengemukakan pandangan mereka.

Sumpah Pemuda menggarisbawahi komitmen terhadap kemajuan bangsa. Untuk mendorong dan mendukung komitmen ini, tentunya pemuda harus dibekali pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Pendidikan menjadi pondasi dalam memberikan landasan bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam mengatasi tantangan sosial, ekonomi, dan politik. Ini termasuk pendidikan berkualitas, peluang yang adil, dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sumpah Pemuda mengilhami rasa patriotisme dan nasionalisme yang berkaitan dengan rasa kecintaan pada bangsa dan negara. Tentunya, pendidikan harus membantu siswa mengembangkan rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia, memahami sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang membentuk identitas nasional. Rasa patriotisme dan nasionalisme juga melibatkan pengajaran nilai-nilai moral dan etika yang mendukung kesejahteraan bersama.

Terakhir, Sumpah Pemuda mendorong partisipasi aktif dalam perubahan sosial. Dalam pendidikan, partisipasi aktif dalam perubahan sosial dapat mencakup pengembangan keterampilan kepemimpinan dan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah dan memajukan masyarakat. Kecakapan ini menuntut siswa untuk berpartisipasi dan terjun secara langsung untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilannya ke dalam komunitas masyrakat sehingga mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan yang positif.

Makna Sumpah Pemuda dalam pendidikan adalah mengintegrasikan nilai-nilai seperti persatuan, kemerdekaan berpikir, komitmen terhadap kemajuan bangsa, patriotisme, dan partisipasi sosial dalam kurikulum dan pendekatan pendidikan. Ini akan membantu menciptakan generasi muda yang kuat, cerdas, dan berkomitmen untuk mewujudkan visi dan semangat Sumpah Pemuda demi masa depan Indonesia yang lebih baik sesuai denga tema Sumpah Pemuda 2023 yakni “Bersama Memajukan Indonesia.”.

This article has been published at Kumparan.com

October 28

Harmoni Asimilasi Kultur, Natur, dan Tutur Bahasa Inggris Menciptakan Pengalaman Unik bagi Wisatawan di Kawasan Pantai Tanjung Bira, Sulawesi Selatan

Pantai Tanjung Bira, sebuah surga tersembunyi di ujung Sulawesi Selatan, Indonesia, mungkin tampak seperti tempat liburan biasa pada pandangan pertama. Pasir putih yang bersih, ombak yang tenang, dan matahari yang terbenam dengan cahaya hangat yang menyentuh hati; semua elemen yang membuat setiap pantai tampak indah. Namun, apa yang menjadikan Pantai. Namun, di balik pesonanya yang eksotis, terdapat kisah yang tak terlupakan tentang asimilasi yang menggabungkan natur, kultur, dan tutur Bahasa Inggris dengan cara yang mempesona.

Menggali Akar Asimilasi di Tanjung Bira

Asimilasi Alam

Pantai Tanjung Bira, dengan pasir putihnya yang lembut dan terumbu karang yang menakjubkan, adalah perwakilan sempurna dari asimilasi alam yang dikelola dengan bijak. Meskipun banyak destinasi pariwisata alam yang telah mengalami degradasi lingkungan akibat pertumbuhan pariwisata yang tidak terkendali, Tanjung Bira telah sukses dalam menjaga lingkungan lautnya.

Cerita tentang asimilasi alam tidak hanya tentang keindahan tersebut, tetapi juga tentang bagaimana komunitas lokal menjaga dan merawatnya. Masyarakat di wilayah ini telah berusaha untuk melestarikan lingkungan laut yang indah ini, menunjukkan kepada kita semua tentang pentingnya pelestarian alam dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Ini adalah contoh bagaimana asimilasi alam yang bijaksana dapat mendukung keberlanjutan pariwisata dan memastikan bahwa alam yang luar biasa ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Asimilasi Kultur

Di Pantai Tanjung Bira, budaya lokal telah menjadi elemen integral dalam pengalaman pariwisata. Berbagai kelompok etnis yang tinggal di sini mempertahankan tradisi budaya mereka melalui seni, tarian, dan kerajinan tangan. Wisatawan memiliki kesempatan langka untuk merasakan budaya yang beragam ini, mulai dari upacara adat hingga festival lokal yang meriah. Asimilasi budaya di Tanjung Bira telah memungkinkan komunitas etnis yang berbeda untuk hidup berdampingan dengan penuh keharmonisan, dan para wisatawan menjadi saksi dan peserta dalam keragaman budaya yang mempesona. Wisatawan yang datang ke sini dapat mengalami beragam budaya lokal yang menciptakan pengalaman tak terlupakan.

Tutur Bahasa Inggris

Bahasa Inggris telah menjadi alat penting dalam perkembangan industri pariwisata di Tanjung Bira. Globalisasi telah membawa perubahan, dan masyarakat di sini telah menyadari pentingnya Bahasa Inggris dalam industri pariwisata. Mereka berpendapat bahwa, dengan Bahasa Inggris yang baik, mereka dapat berkomunikasi dengan wisatawan dari seluruh dunia dengan lebih lancar.

Mereka dapat bekerja sebagai pemandu wisata, instruktur selam, penyedia layanan akomodasi, atau bahkan sebagai guru Bahasa Inggris. Ini membantu meningkatkan pendapatan individu dan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Pemandu wisata, staf hotel, dan pedagang lokal yang melayani wisatawan asing berusaha berbahasa Inggris dalam setiap percakapannya, setidaknya satu dua kalimat yang berkaitan dengan profesi mereka. Hal ini menciptakan pengalaman yang lebih nyaman dan menghilangkan hambatan komunikasi antara wisatawan dan komunitas setempat.

Sebagai respon terhadap peningkatan kunjungan mancanegara dan kesadaran akan pentingnya Bahasa Inggris, dinas pariwisata dan pihak terkait mengembangkan sekolah Bahasa Inggris/ kursus dan program pelatihan yang memungkinkan penduduk setempat untuk memanfaatkan peluang di sektor pariwisata dengan lebih baik.

Perkembangan Bahasa Inggris di Pantai Tanjung Bira adalah cerminan dari bagaimana globalisasi dan industri pariwisata dapat memengaruhi komunitas lokal. Bahasa Inggris telah menjadi alat penting dalam membantu komunitas Tanjung Bira untuk menjaga warisan alam dan budayanya, sambil menjadikannya destinasi yang lebih terbuka dan ramah bagi wisatawan internasional. Dengan pertumbuhan yang berkelanjutan, bahasa ini terus menjadi penghubung penting antara komunitas lokal dan dunia luar.

Harmoni Asimilasi

Asimilasi alam, budaya, dan Bahasa Inggris di Pantai Tanjung Bira menciptakan harmoni yang sangat luar biasa. Para wisatawan yang datang ke sini tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan kedalaman budaya dan kualitas pelayanan yang disempurnakan oleh komunitas lokal yang fasih berbahasa Inggris. Ini memberikan kesan mendalam bagi mereka yang datang dan memastikan bahwa Tanjung Bira tetap menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia.

Pantai Tanjung Bira adalah contoh sempurna bagaimana alam, budaya, dan bahasa dapat saling berdampingan, saling memperkaya sehingga memberi napas kehidupan pada daerah wisata ini dan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi wisatawan yang berkunjung. Ini adalah cerminan tentang bagaimana harmoni antara manusia dan alam, serta budaya dan globalisasi, dapat menciptakan destinasi yang benar-benar istimewa.

This article has been published at Suara Lidik

October 27

THE USE OF ENGLISH FOR TOURISM IMAGES AND BRANDING

How to Cite

Pratiwi, W. R., Juhana, J., & Acfira, L. G. (2023). THE USE OF ENGLISH FOR TOURISM IMAGE AND BRANDING. KLASIKAL: JOURNAL OF EDUCATION, LANGUAGE TEACHING AND SCIENCE5(2), 398–407. https://doi.org/10.52208/klasikal.v5i2.949

Abstract

Using English for tourism branding and promotion in Indonesia effectively enhances Indonesia’s appeal as a tourist destination. This study aimed to investigate the use of English for tourism branding and promotion in Indonesia. It was qualitative research with a case study approach involving domestic and international visitors and local communities as informants. The data collection method was questionnaire distribution, semi-structured interviews, observations, and photos. In analyzing the data, the researcher conducted 6 steps from preparing raw data (transcripts, field notes, images, etc.), organizing and preparing data for analysis, reading all data, coding data (themes or descriptions) by hand or computer, linking themes/descriptions, and then interpret its meaning from the theme/description. The findings presented that participants tried to use English in tourism objects to practice their English language skills, to improve speaking confidence, and to provide the best service for tourism image and branding. However, Indonesian people face some problems when speaking, resulting in a limited selection of sentences like “How are you.” The challenges were solved by involving smartphone-based technology, such as the Google Translate platform when communicating. This study may contribute to the acceleration of Second Language Acquisition (SLA) and encounters an impact on boosting proficiency in English as a foreign language, especially for enhancing speaking, which encouraged tourism growth in Indonesia.

October 23

Peningkatan Pengetahuan Guru BahasaInggris SMP Kota Depok TerhadapImplementasi Asesmen DalamPembelajaran

How to cite:

Puspitasari, M., Juhana, J., Zuhairi, A., Ardiasih, L. S., Bachtiar, B., & Pratiwi, W. R. (2023). Peningkatan Pengetahuan Guru Bahasa Inggris SMP Kota Depok Terhadap Implementasi Asesmen Dalam Pembelajaran. Jurnal Pengabdian Dan Peningkatan Mutu Masyarakat (Janayu)4(3). https://doi.org/10.22219/janayu.v4i3.28784

Abstract:

Purpose – In March 2023, Master of English Education, Universitas Terbuka initiated a program of community service to improve the English teachers’ competencies This program is carried out to guide the English teachers who teach at junior high schools in Kota Depok to improve their competence and students’ achievements, as well as efforts to create a generation that has good competitiveness.
Design/methodology/approach – The method used in this community service includes three stages of interrelated activities to ensure maximum achievement of results, namely: (1) needs assessment and communication regarding partners’ willingness to participate in training; (2) delivering material using lectures and questions and answer methods; (3) carry out practice according to the material provided.
Findings – The outcome of this program is demonstrated by the improvement of teachers in creating test items, switching from questions based on text to questions of higher-order thinking skills questions.
Originality/value – One element mentioned by the Supervisor of English teachers and the Head of Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) for English subjects is the implementation of assessment. This program provides English teachers with some new knowledge, insights, and perspectives about assessment in English language learning.

KEYWORDS: Critical Thinking; Formative; Summative.

 

October 19

Memahami Program Imersi Bahasa dalam Praktik Berbahasa Inggris Interaksi Sosial

Dalam dunia yang semakin terhubung, komunikasi lintas batas menjadi kunci utama dalam meraih kesuksesan. Dan salah satu bahasa yang mendominasi panggung global adalah Bahasa Inggris. Keterampilan berBahasa Inggris bukan lagi sekadar aset, melainkan suatu kebutuhan. Banyak orang bermimpi untuk menguasai bahasa ini, tetapi seringkali terhambat oleh kurangnya kesempatan berpraktik langsung. Sehingga, menurut kacamata penulis, belajar Bahasa Inggris tidak cukup hanya dengan menghadiri tatap muka di sekolah, bergelut dengan buku pelajaran, atau mengikuti kursus konvensional. Inilah mengapa program imersi bahasa, seperti yang ditawarkan oleh Kampung Inggris Pare di Indonesia, telah menjadi metode belajar yang tak tergantikan dalam pencapaian kefasihan berBahasa Inggris.

Program imersi Bahasa Inggris adalah metode belajar Bahasa Inggris di mana peserta terlibat dalam interaksi Bahasa Inggris secara intensif dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini menciptakan lingkungan di mana Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar yang dominan dalam berbagai konteks. Stephen D. Krashen, seorang ahli dalam bidang pembelajaran bahasa, menjelaskan program imersi bahasa merupakan sebuah pendekatan di mana peserta dikelilingi oleh bahasa target (Bahasa Inggris) di semua aspek kehidupan sehari-hari mereka yang mencakup pembelajaran berdasarkan konteks sehingga memberikan penekanan pada pemahaman mendalam dan penggunaan bahasa dalam situasi nyata. Merrill Swain, seorang peneliti dalam bidang pendidikan bahasa kedua, mengungkapkan bahwa program imersi bahasa adalah “sebuah metode yang memungkinkan peserta untuk terlibat dalam penggunaan Bahasa Inggris secara aktif dalam interaksi sosial, sehingga mereka dapat mengasimilasi tata bahasa dan kosakata dengan lebih efektif.”

Beberapa keunggulan program imersi Bahasa Inggri adalah sebagai wadah untuk praktik sehari-hari, interaksi sosial, tema beragam, dan kebudayaan lokal. Program imersi memungkinkan peserta untuk mempraktikkan Bahasa Inggris setiap saat. Makan, berbicara dengan teman, berbelanja, dan beraktivitas sehari-hari lainnya semuanya dilakukan dalam Bahasa Inggris. Ini adalah peluang langka untuk melibatkan diri secara mendalam dalam bahasa target. Selain itu, peserta dapat belajar dari instruktur berpengalaman dengan teman yang beragam. Program-program imersi bahasa di kampung ini menawarkan beragam tema, mulai dari kursus umum hingga kursus berfokus seperti bisnis, teknik, atau kepariwisataan. Ini memungkinkan peserta untuk menyesuaikan pengajaran dengan minat dan kebutuhan mereka. Selain belajar Bahasa Inggris, peserta juga dapat merasakan kehidupan dan budaya lokal. Ini menciptakan pengalaman yang lebih kaya dan mendalam dalam pembelajaran bahasa karena siswa berinteraksi dengan sesama pembelajar dari berbagai latar belakang. Ini membantu dalam memperluas kosakata dan pengalaman komunikasi.

Mengenal Kampung Inggris Pare sebagai Tempat yang Menawarkan Metode Belajar Bahasa Inggris berbasis program Imersi

Kampung Inggris Pare adalah salah satu destinasi populer bagi mereka yang ingin mendalami Bahasa Inggris. Terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Layaknya desa-desa lainnya di indonesia, Kampung Inggris Pare, yang mencakup dua Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, juga memiliki masyarakat lokal dengan kepala pemerintahan. Akan tetapi, kampung ini menyajikan suasana akademik yang berbeda dari tempat belajar Bahasa Inggris lainnya yang mana masyarakat lokal mendukung terjadinya program imersi yang berlangsung di kampung ini.

Masyarakat lokal menyambut baik para pembelajar Bahasa Inggris yang datang ke tempat ini. Mereka menyediakan asrama, makanan, penyewaan sepeda, dan fasilitas lainnya. Hal yang paling unik adalah, masyarakat lokal juga berusaha untuk menguasai Bahasa Inggris paling tidak yang berkaitan dengan profesi mereka sehingga mereka dapat menjawab sepatah dua patah kalimat maupun merespon percakapan para siswa yang sedang belajar Bahasa Inggris.

Akan tetapi, hal yang harus diingat adalah tingkat kesuksesan siswa dalam belajar Bahasa Inggris berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk diantaranya adalah keaktifan siswa.

Agar dapat menjadi pembelajar Bahasa Inggris yang sukses, siswa dituntut untuk berpartisipasi aktif untuk berbicara dan berinteraksi karena semakin banyak berpartisipasi, semakin cepat seorang siswa akan memperoleh kefasihan dan kemampuan dalam merespon lawan bicara. Siswa juga dituntut untuk lebih terbuka terhadap budaya yang berbeda karena Kampung Inggris Pare merupakan wadah berkumpulnya siswa dari berbagai penjuru Indonesia. Tentunya, keterbukaan dan pemahaman budaya ini akan membantu seorang siswa lebih memahami konteks penggunaan bahasa. Selain itu, siswa dituntut dalam memanfaatkan waktu luang untuk berlatih berBahasa Inggris dan meminta masukan dari tutor atau sesama peserta karena kritik yang bersifat konstruktif akan membantu kita dalam memperbaiki kesalahan pengucapan atau tata Bahasa Inggris kita.

Menurut hasil penelitian, banyak siswa yang telah meraih sukses dalam pembelajaran Bahasa Inggris melalui program imersi di Kampung Inggris Pare. Mereka mampu menguasai bahasa ini dengan lebih cepat dan percaya diri, sehingga membuka pintu untuk peluang karier yang lebih luas, seperti pemerolehan beasiswa, pekerjaan internasional, atau pengembangan bisnis.

Program imersi Bahasa Inggris sebagai pendekatan pendidikan yang menekankan interaksi Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari peserta. Ini memungkinkan peserta untuk mengasimilasi bahasa dengan lebih efektif karena mereka berada dalam lingkungan di mana Bahasa Inggris digunakan secara nyata, baik dalam konteks sosial maupun budaya. Ini bukan hanya tentang menghafal kata-kata atau tata bahasa, melainkan tentang meresapi, mempraktikkan, dan merayakan Bahasa Inggris dalam semua aspek kehidupan sehari-hari.

This article has been published at Sulbar Tribun News

October 16

Implementasi Pengajaran Bahasa Inggris dalam Kebijakan Kurikulum Merdeka

Bahasa inggris di Indonesia sebagai bahasa asing yang sulit dijumpai praktik dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Lalu bagaimana menghadirkan Bahasa Inggris dalam kebijakan Kurikulum Merdeka di Indonesia?.

Sebagaimana yang kita ketahui, Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang telah berhasil menjembatani komunikasi antar etnis dan budaya di seluruh nusantara. Sehingga, menggunakan Bahasa Indonesia menjadi simbol nasionalisme dan rasa kecintaan seseorang terhadap bangsa Indonesia. Akan tetapi, di tengah globalisasi dan perkembangan teknologi, di balik pentingnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia, Bahasa Inggris hadir sebagai bahasa internasional (Lingua Franca) yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya di bidang pendidikan.

Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia telah menjadi semakin relevan, terutama dengan peluncuran Kebijakan Kurikulum Merdeka yang memberikan otonomi kepada lembaga pendidikan untuk merancang kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal sehingga guru dan pemangku kebijakan dapat menyesuaikan konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa.

Namun, implementasi Bahasa Inggris dalam kebijakan ini tidaklah semulus yang kita bayangkan. Pemangku kebijakan, guru, maupun siswa masih menghadapi banyak tantangan, terutama karena peranan Bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing di Indonesia yang berakibat pada sulitnya dijumpai praktik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tantangan utama adalah munculnya persepsi bahwa Bahasa Inggris merupakan sesuatu yang eksklusif, terutama di luar lingkungan pendidikan formal. Masyarakat Indonesia, khususnya pembelajar, merasa kesulitan untuk melihat relevansi langsung dari penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari mereka. Inilah yang menjadi kendala dalam memotivasi banyak individu untuk mempelajari bahasa ini dengan tekun. Bahasa Inggris dianggap sulit dan membosankan.

Namun, penting untuk mengubah pandangan ini. Bahasa Inggris bukan hanya tentang kemampuan berkomunikasi dengan penutur asli, tetapi juga tentang akses ke pengetahuan global, peluang pekerjaan yang lebih luas, dan kemampuan untuk bersaing dalam kancah internasional. Dalam era digital, kemampuan untuk mengakses sumber daya, informasi, dan komunikasi dalam Bahasa Inggris sangat berharga. Seseorang yang tidak menguasai Bahasa Inggris mungkin akan tergerus oleh kemanjuan zaman.

Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum merdeka, penting untuk memasukkan Bahasa Inggris dalam konteks praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Bahasa Inggris dalam konteks masa kini tidak hanya dipandang dalam satu persepktif saja. Tujuan mempelajari Bahasa Inggris mencakup berbagai aspek kehidupan. Untuk tujuan komunikasi internasional misalnya, siswa dapat dibimbing bagaimana menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam konteks global, termasuk bisnis, diplomasi, dan media sosial.

Lain halnya untuk tujuan akses informasi. Siswa sebaiknya dibimbing bagaimana cara mencari literatur dan informasi untuk meningkatkan pengetahuan. Untuk keterampilan kerja, guru harus mengintegrasikan Bahasa Inggris ke dalam pelatihan keterampilan kerja yang relevan dengan industri tertentu. Untuk pemahaman terkait budaya populer, siswa diarahkan mempelajari Bahasa Inggris melalui musik, film, dan literatur yang populer di seluruh dunia.

Dengan mengintegrasikan Bahasa Inggris ke dalam konteks yang praktis dan relevan, pengajaran Bahasa Inggris dapat menjadi lebih menarik dan bermakna bagi pembelajar. Kebijakan Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan untuk merancang pendekatan ini, memotivasi pembelajar untuk mengembangkan keterampilan Bahasa Inggris yang akan membantu mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan bersaing dalam pusaran zama yang semakin mendunia. Bahasa Inggris tidak hanya sebuah mata pelajaran namun sebagai alat yang membuka pintu menuju dunia yang lebih luas.

Pedoman Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Guru memegang peranan kunci sebagai fasilitator siswa untuk belajar Bahasa Inggris yang sesuai dengan gaya belajar, ketertarikan, dan kebutuhan individu pembelajar dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Lalu, bagaimana sebaiknya guru bertindak memfasilitasi siswa dalam pengajaran Bahasa Inggris dalam konteks kurikulum saat ini?.

Beberapa pedoman untuk membantu guru menjalankan peran ini secara efektif diantaranya memahami karakteristik, minat, kebutuhan, dan gaya belajar unik dari setiap siswa dengan melibatkan wawancara awal, penilaian, atau observasi untuk mengidentifikasi preferensi belajar mereka. Mendiskusikan dan menetapkan bersama dengan siswa tujuan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka tentunya akan memberi siswa motivasi tambahan untuk belajar Bahasa Inggris. Kurikulum merdeka menekankan adanya kolaborasi dengan siswa. Mari mengajak siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Diskusikan dengan mereka tentang apa yang mereka ingin capai, dan bagaimana mereka ingin belajar Bahasa Inggris.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka atau bahkan kurikulum-kurikulum sebelumnya, guru perlu memahami aspek budaya dan latar belakang siswa. Seorang guru harus dapat menyesuaikan metode pengajaran dan materi pembelajaran untuk memenuhi preferensi siswa. Tentunya, ini akan membantu dalam merancang kurikulum yang lebih inklusif dan relevan.

Penerapan diferensiasi Instruksi sangat perlu dalam Kurikulum Merdeka. Siswa yang lebih visual mungkin akan mendapat manfaat dari grafik dan gambar, sementara siswa auditori mungkin lebih suka diskusi berbasis percakapan. Kemudahan akses ke beragam sumber daya, termasuk buku teks yang sesuai dengan tingkat mereka, aplikasi belajar, materi audiovisual, dan perangkat teknologi yang mendukung belajar Bahasa Inggris juga perlu dipastikan karena pemanfaatan teknologi edukasi seperti platform pembelajaran online, aplikasi belajar, dan sumber daya digital lainnya akan sangat berguna dalam memfasilitasi pembelajaran yang sesuai dengan gaya dan kebutuhan siswa.

Memberikan kesempatan peserta didik untuk berkreasi. Foto: Dokumentasi penulis

Pemberian umpan balik yang jelas dan konstruktif serta evaluasi berkelanjutan kepada siswa tentang kemajuan mereka serta cara untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka adalah hal yang tidak kalah penting. Dalam pengajaran Bahasa Inggris sesuai dengan gaya belajar, ketertarikan, dan kebutuhan siswa, guru harus menjadi fasilitator yang sensitif untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan relevan bagi setiap individu. Ini akan membantu siswa merasa terlibat dan termotivasi untuk meraih kemahiran Bahasa Inggris yang lebih baik sesuai dengan kebijakan Kurikulum Merdeka. Siswa membutuhkan evaluasi berkelanjutan untuk membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Inggris.

Semangat para guru-guru hebat Indonesia. Jangan takut untuk mencoba metode pengajaran yang inovatif dan kreatif, seperti proyek kolaboratif, simulasi, atau permainan yang mendukung pembelajaran Bahasa Inggris.

This article has been published at Kumparan

October 6

The EFL Students’ Perception of the Online Learning during Covid-19 Pandemic and New Normal Era

How to Cite:

Maming, K., Pratiwi, W. R., Rahman, A. W., & Khaldun, M. B. (2023). The EFL Students’ Perception of the Online Learning during Covid-19 Pandemic and New Normal Era.

Abstract:

This research aimed to investigate the EFL students’ perception and expectation of the online learning of the online learning during Covid-19 pandemic and new normal era. This research applied quantitative and qualitative descriptive with survey method. The participants were the English education study program students consisting of fifteen participants at Universitas Muhammadiyah Parepare. In this research, the researchers conducted interview and questionnaire to obtain the data. The result of this research showed that online method was the best solution to be applied change the offline class based on the condition nowadays, but still ineffective in the application. Another result showed that in the implementation of online learning during this pandemic era there was some obstacles found and need more improvement to make learning process more effective. In brief, online learning is relatively good with several obstacles that require improvement. Thus, it is recommended to create a good learning platform that can be applicable in current situation. So that, it is recommended that online learning should be planned, implemented, and evaluated to minimize problems and maximize the achievement of learning objectives.