August 26

Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia (ADPI)

ADPI is an abbreviation of Asosiasi Dosen “Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia”. ADPI stands under the auspices of the Fatih Al Khairiyyah Foundation. This organization is a unifying forum for the activities of Indonesian lecturers in independent community service. This organization is a professional organization for all Indonesian citizens who work as lecturers in all tertiary institutions both at home and abroad. https://adpi-indonesia.id/home/sejarah/

Kartu Anggota

Sertifikat Editor

August 26

Rumah Produktif Indonesia

Rumah Produktif Indonesia (RPI) adalah perkumpulan sosial berasaskan Pancasila dan UUD 1945 yang didirikan sebagai wadah belajar dan kolaborasi produktif berbasis peminatan dan keunggulan kompetitif untuk melahirkan Manusia Indonesia Produktif dan berjuang untuk kejayaan bangsa Indonesia di awal abad ke-21

August 26

Asosiasi program Studi Pendidikan Bhs Inggris

APSPBI merupakan Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang menghimpun dosen-dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (program sarjana, magister, maupun doktoral) se-Indonesia dengan berlandaskan visi untuk menjadi sarana yang efektif dan bermakna khususnya dalam meningkatkan pendidikan guru Bahasa Inggris di Indonesia, terutama di antara anggota asosiasi. 

Kartu Anggota

SK Kepengurusan 2023-2027

Syarat Keanggotaan

August 26

Praktisi Mengajar Angk 2&3_2023

Program Praktisi Mengajar adalah bagian dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) program yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia agar lulusan perguruan tinggi lebih siap untuk masuk ke dunia kerja.

Program ini mendorong kolaborasi aktif praktisi ahli dengan dosen perguruan tinggi agar tercipta pertukaran ilmu dan keahlian yang mendalam. Kolaborasi ini dilakukan dalam mata kuliah yang disampaikan di ruang kelas baik secara luring maupun daring. Melalui Program ini, diharapkan lulusan dapat memperoleh ilmu dan kecakapan yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan di dunia kerja.

Berbeda dengan perkuliahan pada umumnya di perguruan tinggi, Praktisi Mengajar menyediakan ruang kolaborasi antara dosen dan praktisi yang memiliki pengalaman industri dengan dosen yang dilaksanakan selama satu semester. Program dapat menjadi pelengkap kurikulum yang telah berjalan dan berguna untuk melengkapi keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Sumber: https://pusatinformasi.praktisimengajar.id/hc/en-gb/articles/6835317026201-Apa-Itu-Praktisi-Mengajar-

August 24

Differentiated Instruction dalam Kurikulum Merdeka sebagai Upaya Peningkatkan Keterampilan dan Kepercayaan Diri Siswa Berbahasa Inggris.

Berbicara adalah keterampilan yang paling dibutuhkan dalam pembelajaran Bahasa asing khususnya Bahasa Inggris (English as a Foreign Language) karena keterampilan berbicara adalah bentuk komunikasi utama. Tidak dapat disangkal bahwa kemampuan mengekspresikan pendapat secara lisan dalam Bahasa Inggris dengan baik dan penuh percaya diri merupakan sebuah modal dasar untuk turut andil dalam komunikasi dan interaksi dunia karena Bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan dunia (International Lingua Franca).

Fenomena tersebut tentunya menuntut guru Bahasa Inggris untuk mengajarkan keterampilan berbahasa Inggris lisan sesuai kebutuhan dan ketertarikan siswa agar mereka memiliki kemampuan berbicara yang baik dalam kehidupan nyata dengan penuh percaya diri. Sayangnya, kemampuan berbicara merupakan salah satu permasalahan besar bagi siswa karena untuk dapat berbahasa Inggris secara lisan dengan baik melibatkan banyak hal yang menurut mereka rumit. Selain itu, tidak mudah untuk menguasai keterampilan berbicara yang baik dalam waktu yang singkat.

Sejumlah karakteristik, antara lain pemahaman mendengarkan, kebenaran tata bahasa, pengucapan, aksen, kosa kata, ketertarikan, dan kepercayaan diri, berdampak pada pembelajaran bahasa Inggris, khususnya kemampuan berbicara. Rasa percaya diri siswa yang tinggi dapat membantu mereka belajar bahasa dengan lebih baik, terutama ketika mereka berbicara yang berdampak pada kecenderungan berkomunikasi. Memiliki rasa percaya diri dapat membantu siswa untuk berbahasa Inggris lisan dengan lancar selama proses belajar mengajar, baik dalam diskusi kelompok maupun presentasi di depan kelas. (Lar dan Maulina, 2021). Oleh karena itu, bagaimana guru bahasa Inggris membangun kepercayaan diri siswa dalam berbahasa Inggris lisan selalu menjadi fokus pada bidang pengajaran Bahasa Inggris.

Guru perlu menemukan cara bagi siswa untuk berlatih berbicara dan mengekspresikan diri mereka dengan lebih percaya diri jika mereka ingin mencapai tujuan akhir pembelajaran bahasa. Pembelajaran Bahasa Inggris dapat menggunakan berbagai media atau strategi untuk merangsang siswa menjadi percaya diri, aktif dan kreatif. Salah satu strategi yang dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbicara adalah Differentiated Instruction.

Tomlinson (2017) mendefinisikan Differentiated Teaching adalah apa yang terjadi di kelas untuk memberikan siswa berbagai metode untuk menyerap pengetahuan, memahami konsep, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Differentiated Instruction didefinisikan sebagai upaya guru untuk memfasilitasi perbedaan antar siswa di dalam kelas. Guru akan memberikan instruksi yang bervariasi kepada setiap kelompok untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, mendorong kreativitas, dan meningkatkan rasa percaya diri siswa. Dengan berdiskusi atau mempresentasikan hasil kerja dalam kelompok, siswa akan lebih percaya diri dan tidak takut atau grogi saat berbicara bahasa Inggris. Tomlinson (2017) juga menyatakan bahwa Agar setiap siswa dapat belajar secara efisien, kelas yang dibedakan menawarkan beberapa pengaturan untuk memperoleh pengetahuan, memproses atau mengkonstruksi makna konsep, dan menciptakan produk.

Differentiated Instruction adalah pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada siswa untuk meningkatkan potensinya. Melalui pembelajaran yang berdiferensiasi, rasa percaya diri dapat muncul dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan potensi dirinya. Guru tidak membatasi bahan dasar, proses, dan produk yang dihasilkan siswa.

Namun, penerapan Differentiated Instruction bukanlah hal yang mudah karena pembelajaran terkesan berantakan. Meskipun para guru tertarik untuk mengajar dengan Differentiated Teaching, namun masih banyak yang enggan melakukannya karena menurut mereka banyak hal yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan Differentiated Teaching. Guru hendaknya mampu menyediakan berbagai konten pembelajaran yang disesuaikan dengan minat dan jenjang siswa serta menyiapkan beberapa alat penilaian.

Akan tetapi, Differentiated Instruction sebenarnya menguntungkan siswa dengan memaksimalkan potensi mereka dan mengembangkan rasa percaya diri mereka dalam berbicara. Differentiated Instruction merupakan salah satu bentuk implementasi Sekolah Penggerak sebagai dukungan terhadap Kurikulum Merdeka. Siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka sendiri. Program ini sebagai upaya pencapaian Profil Siswa Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter serta dimulai dari sumber daya manusia yang unggul, guna mengembangkan hasil belajar siswa secara holistik (kepala sekolah dan guru). Meski diferensiasi produk, namun hasilnya cukup memuaskan karena siswa dapat mengerjakan tugas sesuai minat dan kemampuan masing-masing.

This article has been published at kumparan.com

August 23

TWO ESSENTIAL KEYS FOR LEARNING A SECOND LANGUAGE: MOTIVATION AND STRATEGIES

For some countries in the world whose citizens are not native speakers of English, English functions as the second language (ESL) and foreign language (EFL), where the culture and mother tongue that determine speaking skills are different. For countries who adopted English as a foreign language, it is not commonly spoken in daily interaction. The use of the language is restricted. Therefore, the effort to learn English should be higher, more active, and more severe than people in ESL countries. Thus, some experts suggest that learners should motivate themselves to practice constantly and intensively and are suggested to use various learning strategies that will succeed in mastering this language.

Weda et al. (2018) mention two psychological factors in accomplishing the learning process and academic performance. These are motivation and learning strategies. “A lot of factors have contributed to the outcome of a learner’s acquisition. Among them, motivation and strategy play a significant role” (Chen & Feng, 2009). Besides, Haryanto (1998) mentions eight factors influencing the learning process: attitudes, motivation, learning strategy, teachers’ competence, learning material, parents’ role, school community, and school policy. However, from these eight aspects, he reveals that learning strategy and motivation arise at the core, whereas the others are peripheral or incidental. Bukhary and Bahanshal (2013) also reveal that the teacher must rely on their capability to enhance the students’ motivations and propose different strategies to further develop their language learning. All these explanations demonstrate that motivation and learning strategy are essential in second language acquisition and learning, especially for the English major.

Motivation is the driving force to encourage the learner to learn. Gardner and Lambert classified motivation (1972) into two orientations: integrative and instrumental motivation. Integrative or intrinsic motivation is a desire to learn a language to communicate goals. These learners will try to find the opportunity to speak with people from the culture who speak it or identify closely with the target language group. In comparison, learners behind instrumental or extrinsic motivation will learn a language to fulfill their specific goals. It is usually for the short term, such as getting a scholarship, finding employment, or passing an examination.

While learning strategies specific actions are taken by the learner to make learning easier, faster, more enjoyable, more self-directed, more effective, and more transferable to new situations. People do not understand everything when they are born, but they will grow with more understanding due to learning. The non-native English learners can use the language very well because they pass the process of learning. However, the degree may be different. Some people will master a specific subject quickly, while others may be slower.

Different experts classify learning strategies based on the context, although the target of classifying learning strategies has the same purpose and function. The division of strategic learning that is most widely referred to in the world is the classification proposed by Oxford (1992). She differentiates six group language learning strategies, divided into two main categories: direct strategies (memory, cognitive, and compensation strategies) and indirect strategies (metacognitive, affective, and social strategies).

Some learners may be more successful than others when learning a second or foreign language even though they are exposure to the same teaching methods and learning environment. Even though the teacher’s teaching methods are suitable and the atmosphere is supportive, when learners do not have the motivation themselves to implement appropriate learning strategies, they will not be successful in achieving learning goals.

Learners who have their appropriate learning strategies normally will have a better understanding. Besides, by employing suitable learning strategies, students’ learning methods could be more disciplined and more comfortable with the conditions to study. The strategies enable students to get the big responsibility to enhance their progress in developing second language skills, which includes a wide range of behaviors that can help to build communicative competence in many ways.

With learning strategies, students’ learning methods could be more disciplined. They also got more comfortable studying conditions by using proper learning strategies, and students could receive more convenience in understanding the lessons that lecturers gave them. The students have critical skills in communicating. Oxford quotes, “More effective learners showed careful orchestration of strategies, targeted in a relevant, systematic way at specific L2 tasks” (2003, p.10).

Widya Rizky Pratiwi is a Lecturer at Universitas Terbuka, Indonesia, and can be mailed on widya_pratiwi@ecampus.ut.ac.id

Syed Anaitullah Bukharie is a Master’s Student in the Department of Statistics at the University of Kashmir and can be mailed at syedanaiyatbukharie@gmail.com

This article has been published at

https://epaper.kashmirconvener.com/epaper/edition/1345/kc-e-paper-18-08-2023/page/4

https://epaper.globalkashmir.net/uploads/epaper/2023-08/64dc37d53d5fc.jpg

August 4

Hambatan Menulis Argumentasi dalam Bahasa Inggris

Menulis Gagasan

Menulis adalah sebuah kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat baik bagi penulis maupun orang yang membaca tulisan tersebut (Pratiwi, 2022). Keterampilan menulis merupakan kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, serta perasaan kepada orang lain melalui bahasa tulis, yang ketepatan pengungkapan gagasan tersebut harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata, dan gramatikal serta penggunaan ejaan. Agar dapat membentuk makna secara kontekstual, penulis haruslah memperhatian field (apa yang terjadi?), tenor (siapa yang terlibat?), dan mode (apa peran bahasa yang digunakan?). (Christie & Derewianka, 2010).

Dalam menulis sebuah teks seorang penulis hendaknya mampu memudahkan pembaca untuk memahami teks yang disajikan dengan penggunaan kalimat-kalimat yang mengalir dengan baik. Kalimat-kalimat yang terangkai dengan baik satu sama lain menghasilkan sebuah teks yang koheren dan kohesi. Lalu, apa yang dimaksud dengan koheren dan kohesi? Dilansir dari lamam kemdikbud, kohesi adalah hubungan bentuk antara kalimat-kalimat yang membangun keutuhan wacana (perpaduan bentuk), sedangkan koherensi adalah huhungan makna antara kalimat-kalimat yang membangun keutuhan wacana (perpautan makna).

Menulis argumentasi dalam dunia akademik

Dalam dunia akademik, menulis merupakan keterampilan yang sangat penting sebagai upaya untuk menyampaikan informasi dan mentransformasi ilmu pengetahuan agar dapat menciptakan pengetahuan baru (Weigle, 2002). Sekilas, menulis nampaknya sangat sederhana. Akan tetapi, para akademisi di level Perguruan Tinggi, baik mahasiswa maupun dosen, sering kali menemukan hambatan dalam upaya menciptakan kohesi dan koherensi dalam menulis argumentasi.

Bagi mahasiswa, menulis untuk tujuan akademik dianggap sebagai salah satu tugas yang sangat kompleks dan rumit (Campbell, 2019) karena menulis merupakan aktivitas yang melibatkan unsur kognitif, sosial dan budaya (Weigle, 2002) yang dipengaruhi berbagai faktor. Menurut beberapa ahli (Alharbi, 2019; Tanasy & Nashruddin, 2020; Hyland, 2013; Campbell, 2019), penyebab kesulitan dalam belajar menulis dan menulis teks-teks akademik pun sangat beragam, di antaranya kesulitan dalam memahami mekanika penulisan, penguasaan tata bahasa, kefasihan bahasa target, dan pengetahuan dan kesadaran terhadap jenis teks yang sedang dikembangkan.

Mengapa Sulit Menulis Argumentasi dalam Bahasa Inggris?

Bahasa sebagai alat semiotik berinteraksi dengan beragam konteks dalam upaya membentuk makna (Schleppegrell, 2004). Dan setiap kali mengungkapkan bahasa, penutur/penulis melakukan pemilihan bahasa dalam sistem bahasa yang dimilikinya. Sebab, tulisan yang dihasilkan pembelajar harus memenuhi aspek tidak hanya struktur yang tepat namun juga fungsi yang berterima dalam komunikasi nyata. Oleh karena itu, menulis argumentasi juga membutuhkan keterampilan dalam seni mengelola bahasa tulis.

Bahasa Inggris adalah bahasa yang kompleks dengan tata bahasa dan struktur yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis teks argumentasi merupakan pendekatan yang relatif baru dalam pengajaran Bahasa Inggris, khususnya bagi negara yang mengadopsi Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, seperti Indonesia. Tujuan pembelajaran menulis bahasa kedua/asing pada umumnya untuk memampukan pemelajar menghasilkan bahasa tertulis dalam bahasa target secara fasih, akurat dan tepat, dengan mempertimbangkan berbagai aspek (Broughton et al., 2003).

Akan tetapi, beberapa mahasiswa dalam sebuah pertemuan Focus Group Discussion (FGD) yang bertempat di Universitas Terbuka Daerah Jember tanggal 20 Juni 2023 mengaku bahwa mereka mengalami hambatan ketika menulis argumentasi. Beberapa hambatan yang dialami yaitu penggunaan Bahasa Inggris versi Indonesia, grammar tidak sesuai, hubungan antar kalimat atau paragraf yang tidak koherensi, kesulitan dalam melakukan parafrase, konteks yang sering tidak sesuai, teknik menggabungkan referensi, dan kesulitan mencari sumber asli.

This article has been published on wartasulsel.net