October 3

Investigating students’ perceptions of difficulty in argumentative writing: a study in gender perspective

Journal title Cakrawala Pendidikan
Initials CP
Abbreviation Cakrawala Pendidikan
Frequency 3 issues per year (February, June, & October)
DOI Prefix 10.21831 by
ISSN 0216-1370 (print) | 2442-8620 (online)
Editor-in-chief Prof. Dr. Sulis Triyono
Publisher Universitas Negeri Yogyakarta
Citation Scopus | Sinta | Google Scholar | Garuda

Cakrawala Pendidikan is a high-quality, open-access, peer-reviewed research journal published by the Institute of Educational Development and Quality Assurance of Universitas Negeri Yogyakarta (LPPMP – UNY). Cakrawala Pendidikan provides a platform that welcomes and acknowledges high-quality empirical original research papers about education written by researchers, academicians, professionals, and practitioners worldwide.

Cakrawala Pendidikan with ISSN 0216-1370 (printed) and ISSN 2442-8620 (online) has been re-accredited by the Indonesian Ministry of Education and Culture decision Number 51/E/KPT/2017, which is valid for five years since enacted on 4 December 2017.

https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/index

September 17

APSPBI Menjadi Wadah Silaturahmi dan Kolaborasi Dosen

Sekilas Mengenal APSPBI

APSPBI merupakan Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang menghimpun dosen-dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (program sarjana, magister, maupun doktoral) se-Indonesia dengan berlandaskan visi untuk menjadi sarana yang efektif dan bermakna khususnya dalam meningkatkan pendidikan guru Bahasa Inggris di Indonesia, terutama di antara anggota asosiasi. Untuk mencapai visi tersebut, APSPBI berusaha menjalankan 3 misinya yaitu memfasilitasi tindakan kolaboratif di antara program studi anggota asosiasi dan masyarakat akademik, memfasilitasi tindakan kolaboratif antara program studi anggota asosiasi dan pemerintah, dan mempercepat sosialisasi peraturan-peraturan resmi dan tanggapan yang relevan.

APSPBI yang berdiri di tahun 2015 memiliki dewan penasehat dan struktur pengurus harian dengan pembagian 3 divisi yaitu admin, jurnal, dan APSPBI regional untuk masing-masing wilayah (https://apspbi.or.id/index.php/susunan-organisasi/ ).  Untuk periode 2019-2023, APSPBI diketuai oleh Bapak Paulus Kuswandono, Ph.D, seorang dosen dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarya.

Sejalan dengan misinya, APSPBI memiliki berbagai kegiatan. Beberapa diantaranya adalah International Conference, Focus Group Discussion, dan Bussiness Meeting yang dilaksanakan setiap tahun dengan modus hybrid online dan offline. Bussiness Meeting adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (APSPBI) setiap tahunnya. Kegiatan ini dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda di seluruh Indonesia setiap tahunnya dengan memilih Universitas sebagai host atau tuan rumah yang berada di daerah tersebut.

Annual Bussiness Meeting APSPBI 2023

Tujuan Bussiness Meeting Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (APSPBI) adalah untuk menjalin dan mempererat silaturahmi serta kolaborasi antara dosen-dosen Pendidikan Bahasa Inggris seluruh Indonesia dan berdiskusi dalam bentuk Focus group Discussion (FGD) terkait dokumen kurikulum, sharing keilmuan, dan lain-lain yang terkait dengan tridharma perguruan tinggi. Dua Perguruan Tinggi yang pernah menjadi tempat pelaksanaan Bussines Meeting APSPBI adalah Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Sanata darma, Yogyakarta.

Kegiatan Annual Bussiness Meeting tahun 2023 dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), Medan berlangsung pada hari Kamis-Jumat, 14 – 15 September 2023. Kegiatan tersebut dihadiri oleh dewan penasihat, pengurus harian, anggota APSPBI, kaprodi dan atau dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (S1 dan S2) seluruh Indonesia. Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Terbuka dihadiri oleh penulis sendiri.

Bussiness Meeting APSPBI 2023 dirangkai dalam dua kegiatan inti yaitu seminar internasional (The 1st International Conference on English Teaching and Linguistics) dan Annual Bussiness Meeting of APSPBI berupa Focus Group Discussion (FGD). Seminar internasional bertema “Responding to current issues in ELF: innovation, challenges, and strategies.” Tema tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi 11 subtema, yang beberapa diantaranya adalah Curriculum and Material Development, Current Trends in ELT research, EAR & ESP, Literature Studies, etc.

Sedangkan, Bussiness Meeting dirangkai dalam bentuk Focus Group Discussion yang membahas terkait dokumen kurikulum dan pelaksanaan review kurikulum antar Perguruan Tinggi sehingga masing-masing Perguruan Tinggi mendapat masukan dari minimal dua reviewer eksternal yang disahkan oleh ketua APSPBI. Output atau luaran dalam kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen kurikulum berbasis OBE berdasarkan kriteria lamdik. Menurut penulis, kegiatan Bussiness Meeting yang diinisiasi oleh APSPBI menjadi wadah silaturahmi dan kolaborasi dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris se-Indonesia.

This article has been published at jalurinfo.com

September 1

Mendorong Pelaku Pariwisata untuk Mengembangkan Keterampilan Berbahasa Inggris

Peranan Bahasa Inggris dalam Dunia Pariwisata

Bahasa Inggris memegang peranan penting dalam semua sektor, tidak terkecuali pada bidang pariwisata, khususnya untuk melakukan ekspansi dan promosi ke tingkat internasional. Pada dasarnya, seluruh proses komunikasi dengan para wisatawan asing membutuhkan kemampuan dan penguasaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris sebagaimana bahasa ini diamanatkan sebagai bahasa pergaulan dunia (Lingua Franca).

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba, Drs.H. Muhammad Daud Kahal, M.Si,  menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan saat menjadi pemandu wisata, menawarkan produk kerajinan tangan, melakukan promosi wisata keluar negeri, memberikan pelayanan akomodasi (hotel, restaurant), dan lain-lain. Oleh karena itu, menguasai Bahasa Inggris menjadi syarat mutlak bagi masyarakat lokal yang berada di daerah pariwisata, khususnya pelaku pariwisata, agar dapat saling memahami maksud dan tujuan untuk memberikan pelayanan terbaik. Penguasaan Bahasa Inggris yang dimaksud minimal penguasaan kosakata yang terkait dengan pariwisata.

Dalam hal pelayanan, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia adalah tamu yang harus dilayani. Sebaliknya, para pelaku wisata merupakan pelayan yang harus melayani tamu. Karena itulah, masyarakat lokal yang ada dalam zona pariwisata atau yang terjun langsung sebagai pelaku wisata harus menguasai Bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi dengan baik.

Mendukung pernyataan tersebut, menurut AL-Saadi (2015), penguasaan Bahasa Inggris dalam dunia pariwisata akan berimbas pada beberapa hal terkait yaitu meningkatkan kepuasaan pelanggan, memotivasi wisatawan internasional, membantu memahami kebutuhan wisatawan dengan lebih baik, membantu untuk lebih memahami budaya lain, dan membantu meningkatkan efektifitas komunikasi baik komunikasi internal maupun komunikasi eksternal.

Mendesain Program-Program Bahasa Inggris untuk  Mendorong Pariwisata di Indonesia

Menurut kajian-kajian literatur yang dibaca penulis, beberapa upaya yang pernah dilakukan pemerintah terkait, khususnya Dinas Pariwisata, untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris di daerah objek pariwisata yaitu secara rutin mengadakan pelatihan Bahasa Inggris untuk Keperluan Khusus (English for Specific Purposes). ESP adalah suatu pendekatan dalam pengajaran dan penggunaan Bahasa Inggris untuk bidang dan kajian khusus yang sesuai dengan kebutuhan bidang ilmu dan profesi pengguna Bahasa Inggris tersebut.

Sasarannya adalah masyarakat lokal khususnya yang terjun langsung sebagai pelaku pariwisata, seperti Bahasa Inggris untuk Pariwisata (English for Tourism), Bahasa Inggris untuk Pemandu Wisata (English for Tour Guide), Bahasa Inggris untuk Perhotelan (English for Hospitality), dan lain sebagainya. Bahasa Inggris yang harus diketahui dan dikuasai oleh masyarakat sekitar tempat wisata adalah minimal Bahasa Inggris dasar yang berkaitan dengan profesi mereka, kosa kata sederhana dalam berkenalan, atau hanya sekedar menyapa para wisatawan asing ini (Setyanto, 2012).

Berdasarkan studi literatur dan wawancara, dinas pariwisata menawarkan waktu dengan durasi yang berbeda-beda dalam memberikan pelatihan. Beberapa pemerintah menyediakan program rutin sekali dalam tiga bulan untuk memberikan pelatihan kepada warga lokal selama satu minggu. Beberapa diantaranya menjadwalkan kegiatan setiap bulan untuk dua hari di weekend Sabtu dan Minggu untuk memberikan pelatihan.

Selain upaya tersebut, pemerintah juga memperkenalkan dan melatih penggunaan berbagai macam Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang dapat membantu untuk meningkatkan keterampilan Bahasa Inggris dan berkomunikasi langsung dengan wisatawan mancanegara, seperti “Google Translation“. Daerah wisata yang berada di daerah terpencil, kondisi masyarakat lokal belum up to date bahkan beberapa diantaranya, khususnya pedagang, masih kurang tersentuh dengan kemajuan teknologi. Banyak masyarakat yang belum memanfaatkan internet dalam menawarkan jasa dan produk mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat memaksimalkan pendapatan mereka yang secara tidak langsung tentunya berepngaruh pada kualitas pelayanan kepada wisatawan.

Beberapa Dinas Pariwisata membentuk humas yang bertugas untuk mendampingi grup WA para pelaku wisata. Selain memperkenalkan Artificial Intelligence secara langsung pada saat pertemuan rutin workshop Bahasa Inggris, pemerintah juga menyampaikan info-info update terkait AI atau tools yang dapat membantu meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris, misalkan untuk menerjemahkan dan berlatih berbicara. Dalam Wa grup tersebut, admin grup dapat memberikan pengantar atau memacu anggota untuk berinteraksi dan berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris jika saat membahas perkembangan pariwisata ataupun mendorong penggunaan AI yang dapat membantu mereka meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris.

Informasi unik yang penulis dapatkan adalah terdapatnya sebuah desa yang dijuluki “Desa Pariwisata Bahasa Inggris” di salah satu daerah di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Kepala Bidang Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, Yanto Maluka, SE, menjelaskan bahwa pemerintah memfasilitasi grup wisatawan mancanegara yang ingin menginap di rumah-rumah penduduk ynag ada di desa tersebut dan merasakan kegiatan penduduk secara langsung seperti bercocok tanam ataupun berdagang. Mereka dikumpulkan di satu desa dengan didampingi beberapa pemandu wisata untuk mendorong masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi menggunakan Bahasa Inggris kepada wisatawan mancanegara. Namun, jika terjadi misskomunikasi antara penduduk setempat dengan wisatawan asing, mereka yang menguasai Bahasa Inggris dapat membantu memediasi komunikasi.

This article has been published at https://sulselpedia.com/