March 25

Mempertimbangkan Capaian Pembelajaran dan Fokus pada Kualitas Implementasi Pengajaran Bahasa Inggris

Pemerolehan bahasa asing adalah satu hal yang sangat signifikan untuk menjadi fokus kita bersama di era ini. Sebagaimana perannya sebagai bahasa “pergaulan internasional” atau yang dikenal dengan istilah “lingua franca”, motiv yang mendasari seseorang belajar Bahasa Inggris berbeda beda. Sebagian bertujuan untuk tujuan integratif agar dapat merasa aman dan nyaman berkomunikasi ketika bepergian ke luar negeri. Sebagian lagi untuk tujuan instrumental seperti kepentingan agar dapat lulus ujian, dapat menuntaskan soal TOEFL atau IELTS, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, maupun mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan dan tuntutan untuk menguasai bahasa asing ini bergerak semakin tinggi yang menyebabkan peranan Bahasa Inggris menempati posisi sebagai salah satu kurikulum wajib di sekolah. Tahap demi tahap, Bahasa Inggris telah berkembang dari minat minoritas dalam linguistik terapan menjadi bidang studi utama yang juga menggeser titik fokus kita bersama dalam implementasi pengajaran Bahasa Inggris di negara yang bukan penutur Bahasa Inggris sebagai bahasa asli.

Di Indonesia, Bahasa Inggris sudah diajarkan di sekolah sejak zaman penjajahan Belanda, namun dihapuskan pada zaman penjajahan Jepang. Kemudian Bahasa Inggris secara resmi kembali diajarkan sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1967. Bagi beberapa negara di dunia yang warganya bukan penutur asli Bahasa Inggris, bahasa ini berfungsi sebagai bahasa kedua atau dikenal dengan istilah “English as a Second Language (ESL)” dan bahasa asing yang dikenal dengan istilah “English as a Foreign Language (EFL). Namun, kedua posisi ini dipandang memiliki arti yang berbeda dalam konteks budaya, pembelajaran dan penggunaannya. Richards dan Smidt (2010) mengatakan bahwa EFL diibaratkan sebagai studi kelas di luar negeri di mana Bahasa Inggris tidak memainkan banyak peran secara internal. Sedangkan, ESL sering merujuk pada perolehan Bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan yang berfungsi sebagai media komunikasi dan interaksi di sekolah maupun dalam ruang lingkup pemerintahan.

Seharusnya, sebagai negara yang mengadopsi Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL), kita harus memiliki usaha yang lebih gigih dalam hal peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Sebab, kita tak bisa mengharapkan fenomena yang sama yang terjadi di negara yang mengadopsi Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) yang mana Bahasa Inggris digunakan sebagai media komunikasi yang dominan. Sehingga peluang dalam penerimaan bahasa asing dalam interaksi sehari-hari di negara kita sangatlah kecil.

Sayangnya, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Salah satu yang menjadi sebuah “trend” dalam pengajaran Bahasa Inggris di kelas adalah banyak guru di Indonesia yang masih melaksanakan sistem pengajaran tradisional dengan menerapkan metode ceramah untuk mendominasi pembicaraan sehingga kegiatan di kelas terlihat monoton satu arah dan terkesan membosankan. Alur kegiatan berdasarkan inisiasi guru, namun respon siswa sangat pasif sebagaimana Muttaqien (2017) dalam studi penelitiannya menemukan sebagian besar pembicaraan di kelas didominasi oleh pembicaraan guru.

Kasus yang lain terkait dengan pilihan bahasa instruksional atau bahasa pengantar guru yang dikenal dengan istilah “teacher talk”. Pertanyaan yang sering menjadi kontroversi adalah “haruskah guru EFL hanya berbicara bahasa target (Bahasa Inggris) di kelas sembari memanfaatkan gerak tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata yang baik untuk membuat siswa memahami apa yang sedang dijelaskan? Jika demikian, apakah seluruh siswa dapat memahami materi dengan baik?” ataukah “haruskah guru EFL menggunakan bahasa pertama (Bahasa Indonesia) dalam menjelaskan materi atau menyampaikan informasi penting? Jika guru EFL memutuskan untuk menggunakan bahasa pertama, lalu seberapa besar proporsi bahasa tersebut untuk mengakomodasi penguasaan Bahasa Inggris siswa?.”

Dua hal di atas menjadi masalah yang dapat menghambat perkembangan Bahasa Inggris di Indonesia. Oleh karena itu, mempertimbangkan capaian pembelajaran dan memfokuskan perhatian kita pada pencapaian kualitas dalam implementasi pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah merupakan tanggungjawab kita bersama, khususnya para praktisi pendidikan dalam ruang lingkup pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang dikenal dengan istilah “Teaching English as a Foreign Language (TEFL)”.

The article has been published on jalurinfosulbar.id

 

 


Surel: widya_pratiwi@ecampus.ut.ac.id - Blog: https://www.pratiwiwidyarizky.my.id/

Posted 25/03/2023 by widya-pratiwi in category "Homepage

About the Author

Widya Rizky Pratiwi is a lecturer of Universitas Terbuka, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *